Suatu hari ada 4 orang nanya cara saya lose weight. With all my gratitude and humbled heart, berat badan saya memang banyak berkurang. Ke 4 orang ini mungkin adalah orang ke sekian puluh yang nanya, so maybe if i write this down bakal jadi inspirasi dan motivasi buat temen-temen yang juga sedang berusaha untuk sehat.
It was nearly 2 years ago, mungkin sekitar bulan September 2011, berat saya saat itu 78-79 kg. Why did i ever get that fat? Pertanyaannya lebih ke : "where was everyone and why they didn't tell me anything?" (Except Mom, tapi the thing with Mom, it's like i have an automatic refusal reaction system hehehe). Mungkin karena saya selalu merasa sehat-sehat aja, dan selalu ada pembenaran "Yang penting sehat". Apanya yang sehat, gak pernah olahraga, makan dalam porsi yang berlebih, gak perhatian sama apa yang dimakan, makan sayur dan buah seadanya, dan dosa-dosa lainnya. Saya gak inget kejadian apa yang membuat saya tergerak, saya cuma inget saya dapat semacam panggilan dan gak pengen sakit seperti halnya beberapa orang di keluarga saya. Penyakit jantung ada di garis keluarga saya, Opa korbannya. Diabetes juga ada, Bude saat ini masih berjuang semoga menang. Nyokap juga beberapa tahun lalu, divonis stroke ringan. "I don't wanna die in a hospital bed and have to pay for it".The idea took over my head. Bagaimana dengan losing weight? Sama sekali gak terpikir. I'm not lying.
So, saya mulai dengan hal-hal kecil yang semoga membuat saya lebih sehat. It's a long list, siap-siap bosan, atau, siap-siap termotivasi. :)
Bukannya gak pernah pengen kurus, i did remember saya pengen kurus, by signing up ke salah satu gym ternama, bayar sekian juta untuk membership, nyetir malem-malem ke gym untuk berkeringat. But it didn't last long. Ntah karena harus nyetir dulu ke lokasi, atau peralatan simply boring atau ruangannya terlalu dingin sehingga sulit berkeringat, lame lah. Akhirnya di panggilan kali ini, saya memutuskan untuk mulai jogging. Murah, gratis malah dan gak nyusahin. Kebetulan lumayan dekat dari rumah ada taman yang sangat mumpuni, Taman Suropati.
Untuk menambah semangat sehat itu, saya beli sepatu jogging bermerk. Selain itu juga saya masukkin lagu-lagu penyemangat di playlist. Masalahnya, walaupun saya DULU pemain basket, saya gak pernah cakap soal lari. Kalo disuruh balapan 100m masih ada kans menang, tapi kalo disuruh keliling, udah pasti paling belakang, pake di-over lap pula sama temen. Nah, selain harus sadar diri karena tubuh juga gak akan siap kalo langsung diajak jogging setelah menahun gak berolahraga, saya juga membuat alternatif yang lebih mudah dengan : berjalan kaki. Jalan kaki selama 40 menitan 2-3 kali seminggu, kalo gak sempet, saya suka mengada-ngada. Mengada-ngada dengan minta diturunin di jalan Surabaya aja sama temen yang ditebengin, mengada-ngada parkir yang jauh, apapun supaya saya jalan kaki. Jalan kaki saya lama-lama diselipin lari-lari kecil, kalo gak kuat, perut mulai sakit, berenti lari, tapi tetap jalan. Sekarang, hampir 2 tahun kemudian, porsi larinya bertambah tapi sayang frekuensi berkurang karena penugasan kantor, paling cuma seminggu 1-2 kali. Biasanya saya lari di Sabtu pagi dan atau Minggu sore sejauh 3,2 KM per sesi. Tapi masih ada jalan kakinya kok, as i said, i'm a weak runner. Yang penting berkeringat, that's the big idea. Supaya tetap berkeringat tapi gak bosen dengan kegiatan lari, saya juga sempet beli sepeda. Kalo mulai bosen lagi, beli celana baru buat lari (it helps!), beli kaos, install aplikasi work out di smart phone (contoh : Endomondo) atau isi playlist sama lagu baru. To stick with the idea of sweating, saya pun bergabung dengan beberapa rekan di kantor untuk main bulutangkis. My first love, bulutangkis, i happen to be a not so bad player, jadi bergabung dengan mereka juga gak merepotkan. Sekali seminggu, satu jam, mungkin beberapa ratus kalori terbakar. Ini langkah sehat pertama saya, berkeringat, no matter what.
Sayur gak enak, dan buah mahal. Benar sekali. Seratus buat Anda. Cuma mau gimana lagi, si gak enak dan si mahal ini adalah kunci menuju sehat, mutlak hukumnya. Baca di buku manapun, nanya sama dokter manapun, udah pasti manusia disaranin makan sayur sama buah. Mungkin ini kenapa orang jaman dulu, dulu banget maksudnya, umurnya panjang-panjang dan sehat. Mana ada coba jaman dulu buffalo wings, atau lasagna, atau cheese cake. Akhirnya setiap ada kesempatan, saya makan sayur dan mengalokasikan sebagian uang untuk beli buah. Lama-kelamaan, si sayur ini bikin kangen, kalo gak ada pasti saya cari. Saya jadi bawel sama orang rumah, karena saya mau ada sayur tertentu di menu harian, dan saya juga gak pengen sayurnya dimasak dengan cara tertentu mengingat jumlah minyak yang digunakan, dll. Semakin lama, semakin sayang juga sama sayur. Saking sayangnya, porsi sayur menggantikan porsi nasi. Sayur favorit saya sejauh ini wortel, buncis dan brokoli rebus, enak dimakan sama protein seperti ayam bakar, atau soto pun jadi. Juga sayur bayam, tumis toge dan kangkung is also fine, capcay is always good. Salad is also good asal dressing-nya dienyahkan (lama-lama bisa kok) karena tinggi kalori dan konon mengurangi nutrisi sayuran.
Si mahal buah is a must, camilan sehat dan bervitamin, manis tapi gulanya alami. Terpenting adalah buah bisa jaga kondisi tubuh. Perlu saya pamerin, bahwa terakhir pilek adalah Oktober 2011. Saya yakin banget, buah pahlawan saya untuk yang satu itu. Berapa yang saya spend untuk buah sebulannya? Mungkin sekitar 600ribu kalo jajan buahnya di swalayan ternama, kalo jajannya di swalayan kurang pamor yang pangsanya segmented, bisa cuma setengahnya. Start to think like ibu-ibu, yes? Hehehehe.. Buah apel is highly recommended. An apple a day keeps the doctor away, katanya. Semoga bener ya.. Beneran gak pilek. Belimbing juga bagus untuk tekanan darah. Stroberi untuk kulit dan vitamin C. Kalo ada rejeki lebih, bisa beli anggur atau kiwi. Kalo rujak gimana? Ah, gak usah pake bumbunya juga udah enak kok. Bumbu rujak berbahan dasar gula, jadi kalo saya mending gak. Supaya maksimal terserap tubuh, konsumsi buah dengan jarak minimal 1 jam dari makan besar, dengan kata lain buah untuk dessert itu salah, katanya lho ya.. Katanya mulu :)
Kadang suka gak sadar kalo minuman kemasan itu mengandung zat-zat yang kita gak tau apa, juga mengandung kadar gula yang kita gak tau berapa. Jangan selalu percaya sama tagline (yang mereka buat sendiri) yang mengklaim bahwa mereka adalah minuman sehat, rendah kalori, whatsoever. Me? I dropped everything. Saat ini saya cuma minum air putih tidak dingin, teh agak manis di pagi hari (kebiasaan di keluarga) dan baru-baru ini ; teh hijau. Kenapa saya juga udah gak minum air dingin juga saya lupa. Konon dingin bikin lemak lebih awet di tubuh. Teh manis yang tadinya 2 sendok gula, jadi cukup 1 sendok gula. Sementara teh hijau, saya cuma meyakini bahwa itu baik untuk sistem tubuh saya, walaupun gak tau apakah terbukti, i just feel good about it. Air putih is always the more the better. Zero calorie, tremendous privileges. Iya sih memang, kalo baca twitter saya, saya suka mengeluh karena frekuensi pipis saya yang berlebih, namanya juga manusia. Adaaa aja yang dikeluhin. Biar begitu, saya gak akan berenti minum air putih sebanyak-banyaknya. Dua liter sehari is so yesterday, i'm aiming tiga liter or more. Soal alcohol, i'm not that much of a drinker sih, wong mahal, hehehe.. Jadi gak terlalu masalah menanggalkan social obligation when you're in the mid 20's yang satu itu. Begitu juga sama social coffee. Kalo terpaksa, kepepet, atau ya memang lagi pengen, have a shot or two, but then again, setelahnya minum air putih sebanyak-banyaknya. Perlakukan air putih seperti ibadah, dan juga penghapus dosa. :)
Banyak yang bilang saya harus hati-hati dengan pengeroposan tulang. Karena asupan yang gak sebanyak biasanya, there's a good chance tulang saya keropos atau rapuh, yah maklum memasuki usia 30an juga (oh my God!). Akhirnya saya mulai mengkonsumsi yogurt dan susu kalsium. Yogurt sebenernya sudah mulai lebih dahulu karena saya bermaksud membantu sistem pencernaan saya dan untuk kesehatan usus. Yogurt nya gak usah yang mahal-mahal, saya beli yang harganya gak sampe Rp.4.000,-, tapi berhubung minumnya hampir setiap hari jadi ya lumayan sih alokasi uang sebulannya. But it's okay, health is wealth. Susu kalsium saya mulai di tahun kedua. Saya beli juga yang harganya gak sampe Rp.4.000,-, tapi gak minum setiap hari, seling-selinglah sama yogurt. Kalo ada rejeki atau diskon, kadang beli merk yang spesialis dan serius di susu kalsium. Semoga manfaatnya juga lebih. :)
Nasi? I'm your biggest fan! Apalagi pulen, panas dan baru mateng. But let's admit it, biar dari lahir didoktrin "kalo belum makan nasi itu belum makan (atau bukan orang Indonesia)", tubuh kita gak butuh segitu banyaknya nasi, kita bisa kok kenyang tanpa nasi Apalagi katanya nasi mengandung banyak gula. Walaupun sulit ketika tinggal di Indonesia, Jakarta khususnya, untuk menghindari nasi, but you can do it, slowly. Sarapan adanya nasi uduk, bubur, ketoprak. Siang adanya nasi Padang, nasi soto, nasi rames. Malem nasi goreng, nasi pecel lele, nasi kucing. Nasi is everywhere lah pokoknya. Seperti saya paparkan (sah elah) di bagian sayur, lama-kelamaan porsi nasi kalah sama porsi sayur. Do i feel good about it? I feel great! Badan terasa lebih enteng, kenyang lebih lama, dan probably the inner system does a better job. Who knows?
Badan lebih enteng ini ternyata beralasan. Sekian lama gak nimbang, ya karena objektifnya memang bukan soal losing weight, pas nimbang, eh ya ampun.. Berkurang toh berat badan saya. Pantesan celana kok pada kegedean. Stupid ya? It's a simple math padahal. Gaya hidup dan berat badan itu kan variable yang dekat. Sekitar 1 tahun dari awal program sehat saya, berat saya yang tadinya 78-79kg jadi 72kg. Dan sekarang 2 tahun dari awal program, berat saya 57kg.
"Udahlah Be, masih aja lo diet!".. Waduh salah konsep ya kayaknya. Saya justru berdoa banget saya gak bakal bosen sama pola ini. Bersyukur sampe saat ini masih pengen lanjutin. Kan supaya sehat, semoga terus sehat. Kurus itu bonus. Walaupun pengen juga sih kurus, tapi kalo objektifnya kurus dan kurusnya gak tercapai, pasti jadi pengen berenti. Jadi, keep the mind straight.
Mungkin temen-temen bisa ambil kesimpulan sendiri ya dari tulisan di atas. Selain yang udah disebutkan, saya juga :
1) Gak makan daging merah (sapi, kambing, bebek) ya karena saya percaya daging-daging tersebut berlemak dan memicu sakit jantung.
2) Mengurangi gorengan juga wajib hukumnya. Penyempitan pembuluh darah katanya berawal dari gorengan.
3) Minta temen-temen untuk gak ngerokok depan saya, hahahaha... Biarin, egois. Yang ngerokok juga egois kalo ngerokok di depan yang gak ngerokok. Ya gak?
Perlahan tapi pasti, orang-orang yang mendapat panggilan serupa pasti jadi lebih health concern dan haus akan info mengenai kesehatan. Kalo udah gitu pasti jadi punya pola dan kepercayaan masing-masing.
Kayaknya itu deh, mungkin ada yang lupa diceritain, tapi ini aja udah panjang dan membosankan ya? Hehehe... oke deh, semoga terinsipirasi dan bermanfaat (dan berhasil berupaya sehat). Good luck!
Sampe ketemu di tulisan berikutnya, hopefully with better lifestyle ya, both of us. :)

